Kamis, 25 November 2021

Mengenang 53 tahun lalu Soe Hok Gie di Semeru



    Gunung Semeru menjadi saksi bisu meninggalnya seorang aktivis muda yang berasal dari Indonesia, yakni Soe Hok Gie, 53 tahun silamPemuda yang sering akrab disapa Gie ini menghembuskan napas terakhirnya di Puncak Mahameru, Gunung Semeru, pada 16 Desember 1969.Jalur pendakian Gunung Semeru pada masa itu jauh lebih ekstrem sebab belum banyak pendaki menjadikannya destinasi seperti beberapa dekade belakangan.Gie dan Idhan Lubis, diduga menghirup gas beracun yang massanya lebih berat dari oksigen.

Mendaki untuk merayakan Ulang tahun

    Diberitakan Harian Kompas, 22 Desember 1969, tersiar kabar bahwa ada dua pendaki dari Jakarta tewas di Gunung Semeru, Jawa Timur. Mereka adalah Soe Hok Gie dan Idhan Lubis.Gie dan Idhan bersama rombongan pendaki lainnya, yakni Abdurrachman, Herman Onesimus Lantang, Anton Wijaya, Rudy Badil, Freddy Lodewijk Lasut, dan wartawan Sinar Harapan Arstides Katoppo.Sehari sebelumnya, pada 21 Desember 1969, TNI Angkatan Laut mencoba mencari para pendaki ini, tetapi kabut membuat proses pencarian semakin sulit.Rombongan pendaki ini berangkat dari Stasiun Gambir pukul 07.00 ke Stasiun Gubeng Surabaya.Mereka berencana mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa, sekaligus menjadi hari istimewa Soe Hok Gie yang akan merayakan ulang tahun ke-27 pada 17 Desember.

Mengambil Jalur yang Tidak Biasa

    Jalur pendakian Mahameru saat itu belum banyak dikunjungi  para pendaki. Gie dan rombongannya membawa buku panduan mendaki Gunung Semeru terbitan Belanda tahun 1930.Kendati demikian, mereka mengambil jalur yang tidak umum dengan melewati Kali Amprong mengikuti pematang Gunung Ayek Ayek, sampai turun ke arah Oro Oro Ombo.Harian Kompas, 16 Desember 1984, memberitakan, rombongan ini mendirikan kemah di Oro Oro Ombo, kemudian melanjutkan perjalanan ke Di Recopado.Mereka meninggalkan tas dan tenda untuk bisa mencapai Puncak Mahameru.Mereka membagi dua kelompok. Kelompok pertama ada Aristides, Gie, Rudy Badil, Anton Wijaya, Abdurrachman, dan Freddy. Kedua, Herman bersama Idhan.Mereka sampai di Puncak Mahameru jelang sore dan mulai kehabisan tenaga. Gie menunggu rombongan Herman yang tertinggal di belakang.Tiba-tiba rekan, satu kelompoknya mulai meracau. Akhirnya Aristides dan Freddy pun membawa Maman kembali ke shelter.

Herman dan Idhan akhirnya tiba di Puncak Mahameru.

Sesampainya di sana, Hok Gie sedang duduk. Idham ikut duduk bersamanya. Namun, Herman tetap berdiri.Menurut  kesaksian Herman, Gie dan Idhan menghirup gas beracun yang massanya lebih berat dari oksigen. Hal ini menyebabkan kondisi keduanya sudah sangat lemas. Dia menduga, gas itu muncul ketika mereka berdua duduk.Dari kesaksian Herman, Gie hanya terdiam, kemudian menggelapar.Gie dinyatakan meninggal di Puncak Mahameru karena menghirup gas beracun, beberapa jam sebelum genap berusia 27 tahun. Tak lama berselang, Idhan meninggal menyusul Gie.Akibat jalur yang ekstrem, evakuasi jenazah kedua pemuda ini cukup panjang. Jenazahnya baru dimakamkan pada 24 Desember 1969.

Gie Dikenal sebagai mahasiswa idealis

    Soe Hok Gie lahir di Jakarta, 17 Desember 1942. Dia adalah aktivis Indonesia keturunan Tiong Hoa.Ia menempuh pendidikan di SMA Kolese Kanisius. Kemudian, melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI) pada 1962 di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra hingga tahun 1969.Pada Januari 1966 hingga 1967, Gie ambil peran dalam memimpin demonstrasi mahasiswa, jelang runtuhnya rezim Soekarno. Bahkan, setelah kekuasaan berpindah tangan ke Soeharto, Gie tetap menulis kritik sosialnya.Gie kerap menyampaikan pendapat dan pandangannya melalui koran, majalah, pamflet, serta penerbitan lain baik di dalam maupun luar negeri.Sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia mencatat nama Soe Hok Gie sebagai simbol idealisme dari kalangan intelektual.

Kamis, 14 Oktober 2021

Ekspedisi di Masa Pandemi, UKM Mapala SPECTA lakukan Ekspedisi Andalas tanah Sumatra

 

Foto Bersama Tim Ekspedisi Andalas Mapala Specta 2021

    Sejak diterapkannya peraturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang disebabkan adanya pandemi, maka pemerintah  membatasi kegiatan sekitar yang tertuang dalam PPKM untuk mengendalikan kondisi pandemi. Untuk penerapannya PPKM selalu mengalami perpanjangan waktu. Dalam pelaksanaan kegiatan Ekspedisi Andalas di Tanah Emas Sumatra tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatra Barat, guna memenuhi syarat kenaikan jenjang menjadi anggota penuh SPECTA yang berlandaskan tri dharma perguruan tinggi  yang dilaksanakan Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) SPECTA Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta. Ekspedisi di tengah Pandemi kali ini Tim ekspedisi juga tidak lupa untuk menerapkan protokol kesehatan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan dengan sabun di air mengalir dan Menjaga jarak) yang menjadi faktor penting untuk melindungi diri.

    Ekspedisi Andalas dilaksanakan pada tanggal 29 September - 11 Oktober 2021. Adanya Upacara pemberangkatan yang dilakukan pada 28 September 2021 di depan wall Mapala SPECTA dipimpin oleh Bilal Syaifullah sebagai ketua umum Mapala SPECTA.  "Ekspedisi ini sebagai proses kenaikan jenjang menjadi anggota penuh SPECTA. Ekspedisi Andalas dilakukan diprovinsi Jambi dan Sumatra Barat semoga sesuai dengan target yang ingin dicapai dapat berjalan dengan lancar dan selamat sampai kembali ke bascamp SPECTA" Ujar Bilal.

"Kami memohon doa dan dukungannya agar Ekpedisi Andalas berjalan lancar dan sukses,” tutur Dyon Widodo ketua pelaksana ekspedisi Andalas.

    Nama Andalas merupakan nama lain dari pulau Sumatra yang berarti Andalas. Andalas sendiri merupakan salah satu icon pohon yang berada di pulau Sumatra. Ekspedisi (Spesialisasi) ini mengusung tema “Menapaki Tanah Emas yang Terbelah Khatulistiwa”, yang berarti ekspedisi tersebut dilakukan di Sumatra karena memiliki nama lain pulau Emas. Dikatakan terbelah khatulistiwa, karena tanah Sumatra adalah pulau yang dilewati garis katulistiwa. Untuk sampai ke tujuan, tim ekspedisi yang berjumlah 12  anggota harus menempuh perjalanan sekitar 13 hari dengan jarak tempuh ±1000 km dari UIN Raden Mas Said Surakarta menggunakan transportasi darat (bus).

Dokumentasi Tim Gunung Hutan- Gunung Masurai

Dokumentasi Tim Caving Gua Vertikal di Daerah Bukit Bulan

Dokumentasi Tim Rafting pengarungan di Sungai Batang Asai

Dokumentasi Tim Rock Climbing di Lembar Harau

    Ekspedisi kali ini dibagi menjadi 4 divisi diantaranya, gunung hutan di Gunung Masurai dengan ketinggian 2.980 MDPL, susur gua (𝘊𝘢𝘷𝘪𝘯𝘨) di Gua Dalam Sarjan, Gua Kadundung, Gua Air Lului dikawasan Bukit Bulan, arung jeram (𝘙𝘢𝘧𝘵𝘪𝘯𝘨) dengan mengarungi Sungai Batang Asai sejauh 24 km, dan Panjat Tebing (𝘙𝘰𝘤𝘬 𝘊𝘭𝘪𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨) di Lembah Harau dengan pengibaran bendera merah putih raksasa. 

Selain kegiatan petualangan, tim kami juga melaksanakan pengabdian masyarakat di Desa Badeng Rejo, Kec. Bangko Barat, Kab. Merangin, Provinsi Jambi. Ada beberapa kegiatan dalam pengabdian ini antara lain: membuat taman baca, pembagian masker dan handsanitizer serta alat tulis serta Al-Qur'an untuk menunjang kebutuhan dalam bidang pendidikan dan kesehatan.

Dokumentasi Tim Ekspedisi Andalas Penyerahan Donasi dengan Bapak Sekdes Bedeng Rejo



(HumasPublikasiMapalaSpecta2021)

Selasa, 12 Oktober 2021

Pemahaman Moderasi Beragama



Sukoharjo – 6-7 Oktober 2021 kemarin telah terlaksana kegiatan Moderasi Beragama yang diselenggarakan UIN Raden Mas Said Surakarta di Hotel Green Valley, Bandungan, Semarang. Kegiatan moderasi beragama dengan tema “ Membumikan Moderasi, Menyemai Harmoni ” ini diikuti 48 Mahasiswa/Mahasiswi UIN Raden Mas Said. Kegiatan ini diawali dengan acara Capacity Building di Treetop Kopeng, lalu di buka di Green Valley Hotel. Dihadiri oleh Rektor UIN Raden Mas Said, Prof Dr. Mudofir S.Ag., M.Pd, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Raden Mas Said, Prof. Dr. H. Samsul Bakri S.Ag., M.Ag, Ketua MUI Jawa Tengah, Dr. KH. Ahmad Darodji M.Si, Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, Haerudin S.H., M.H sebagai pemateri.

Dalam sambutannya Rektor UIN Raden Mas Said menyampaikan perlunya kegiatan terkait pemahaman bahaya radikal bagi  mahasiswa. Kepala Kesbangpol Jawa Tengah mengatakan “ Moderasi Beragama sangat diperlukan sebagai strategi merawat keindonesiaan, sejak dahulu pemimpin bangsa sudah mewariskan nilai kenegaraan dan kebangsaan yaitu pancasila, banyak ideologi radikalisme, ektremisme, konsumerisme yang harus dihindari.” Begitu juga dengan Ketua MUI Jawa Tengah, KH. Ahmad Drodji memaparkan bahwa dalam agama islam toleransi digambarkan dengan sikap saling menghormati dan saling bekerja sama dengan masyarakat yang beragama, dan moderasi sangat penting karena paham ekstremisme dan radikalisme dapat merusak sendi keindonesiaan jika dibiarkan.



Rabu, 22 September 2021

ECO CULTURE#8 ("Rubiyah Sang Matah Ati)

    

ECO CULTURE#8


 Pada tanggal 21 Oktober 2021 telah terlaksana ECO CULTURE#8 Drama Tari "Rubiyah Sang Matah Ati" merupakan sebuah acara yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Sentra. Yang mana acara ini bertempat di Graha Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta. Acara ini dihadiri hanya delegasi dari setiap UKM yaitu satu orang dan bisa disaksikan oleh banyak orang melalui Streaming Youtube Sentra.

    Acara ini di mulai pukul 13:00 dengan dibuka oleh mc, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan beberapa Tarian yang akan dipertunjukan dan penyebutan media patner.

    Tarian yang dipertunjukan antara lain Tari Prajuritan, yaitu tari yang menggambarkan prajurit berlambangkan hari jadi  kota semarang dengan tokoh Adipati Pandanaran. Tari yang dilakukan terdiri dari perempuan dan laki laki yang bersenjata panah dan di iringi gamelan jawa.

    Selanjutnya yaitu pertunjukan Drama Tari "Rubiyah Sang Matah Ati", Drama Tari tersebut sebagai bentuk apresiasi IAIN berganti UIN Raden mas said Surakarta. Siti Rubiyah sang Matah Ati anak pemangku agama, yang bekerja sebagai petani. Raden Mas Said (pangeran samber nyowo) merupakan pangeran yang berasal dari Surakarta. Dalam hari kelahirannya Raden Mas Said mengadakan pertunjukan wayang, seluruh gadis desa menonton termasuk Siti Rubiyah. Raden Mas Said terpesona karena terdapat cahaya dalam dirinya. Dan dijadikan istri Siti Rubiyah pun mendapatkan gelar Raden Ayu Matah Ati. Siti Rubiyah melakukan perang membantu suaminya melawan Belanda.  

(Humaspublikasi2021)

Rabu, 18 Agustus 2021

Semarak Kemerdekaan RI 76 tahun,, Mapala Specta Dari Puncak Gunung Ararat 5.137 Turki

    


     Perayaan HUT RI yang jatuh pada 17 Agustus tahun ini, rasanya akan berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Situasi Pandemic covid-19 atau biasa di sebut virus corons ini masih merebak di seluruh indonesia yang menyebabkan masyarakat harus membatasi mobilitas  dan aktivitas sosial. Meski demikian tidak mematahkan 
semangat Tim Specta Indonesian International Expedition untuk melanjutkan misinya yaitu salah satunya mengibarkan bendera merah putih di puncak tertinggi Gunung Ararat . Segala persiapan Tehnical Center sejak 5 bulan yang lalu,seminggu 5 kali dikawasan UIN Raden Mas Said Surakarta, variasi latihan seperti Push up, Joging Up, Pull Up, Tarik Ban, Fitnes, Vo2 Max dll. Untuk Latihan Medan di Gunung Lawu , Gumuk Pasir Yogyakarta dll. Pada tanggal 13 Agustus 2021 lalu, tim melakukan penerbangan dari Istanbul menuju Kota Igrid, sesampainya di Kota Igrid, tim dijemput oleh guide  yang bernama Enver untuk melanjutkan perjalanan menuju Hotel Ertur, kota Dogobayazit. Pada tanggal 14 Agustus 2021 tim berangkat menuju titik pendakian Gunung Ararat, menggunakan mobil dari guide yaitu mobil Enver. Setelah melakukan pendakian selama beberapa hari . Tepat pada tanggal 17 Agustus 2021 Tim SIIE berhasil mencapai puncak tertinggi di Negara Turki yaitu Gunung Ararat dengan ketinggian 5.137 Masl. Setelah sesampainya di puncak Gunung Ararat tim melakukan pengibaran bendera Indonesia. Pengibaran bendera ini dilakukan untuk menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76 tahun. 



    Ekspedisi ini merupakan langkah awal bagi Specta untuk melaksanakan Ekspedisi - ekspedisi selanjutnya baik Nasional maupun International. Dalam ekspedisi ini Harapan kami yaitu mencapai puncak tertinggi dinegeri turki yaitu gunung Ararat dengan mengibarkan bendera Indonesia,UIN Rm Said dan Specta, Menyemarakkan dan upacara hari kemerdekaan Indonesia yang ke 76, Mengenalkan budaya Indonesia di negeri Turki, Menelusuri sejarah bahtera nabi Nuh as. “Ujar Muh. Bahrudin Selaku ketua Pelaksana”


     Kami memohon doa dan dukungannya agar Specta Indonesian International Expedition (SIIE) berjalan lancar dan sukses.

(HumasPublikasi2021)

Jumat, 06 Agustus 2021

HADAPI SUHU MINUS 20 DERAJAT CELSIUS



    Dua mahasiswa Pecinta Alam Specta, Universitas Islam Negeri RM Said Surakarta, Siap mendaki Gunung Tertinggi di Negeri Turki. 
Keduanya adalah Muhammad Bahrudin (mahasiswa Fakultas Syari'ah), Aan Rohmad Safrudin (mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah) Mereka merupakan atlet Specta Indonesian International Expedition (SIIE).

    Untuk menghadapi suhu kurang lebih minus 20 derajat celsius, Persiapan fisik Ekspedisi Gunung Ararat ini sudah berjalan selama 5 bulan, seminggu 5 kali dikawasan kampus 1 UIN Rm Said Surakarta, Variasi latihan kali ini seperti pusp up, Joging, pull up, Tarik ban, Fitnes, vo2 max dll, Untuk Latihan Medan di Gunung Lawu, gumuk pasir Yogjakarta Dll


    Harapan kami yaitu mencapai puncak tertinggi dinegeri turki yaitu gunung Ararat dengan mengibarkan bendera Indonesia,UIN Rm Said dan Specta, Menyemarakkan dan upacara hari kemerdekaan Indonesia yang ke 76, Mengenalkan budaya Indonesia di negeri Turki, Menelusuri sejarah bahtera nabi Nuh as.

    Dengan serangkaian pelatihan dan persiapan yang telah dilakukan oleh tim tersebut, mereka mengaku siap menaklukkan gunung tertinggi di negeri Turki. Mereka berencana memulai ekspedisi pada 10 Agustus-02 September 2021 mendatang.

    Kami memohon doa dan dukungannya agar Specta Indonesian Internasional Expedition berjalan lancar dan sukses. (HumPub/LinaFebi)

DIKJUT 2021

    

Upacara Pemberangkatan

 Pendidikan Lanjutan atau sering disebut DIKJUT merupakan salah satu tahapan kenaikan jenjang dari anggota muda menuju anggota madya . Pendidikan ini bertujuan untuk menerapkan materi-materi Gunung hutan pada medan yang sebenarnya sekaligus menambah wawasan mengenai Gunung Hutan, Panjat Tebing, Susur Gua, Arung Jeram, serta pengalaman bagi anggota muda . Pendidikan Lanjutan (dikjut) Gunung Hutan Mapala SPECTA pada tahun 2021 ini sukses dilaksanakan pada hari Jumat - Minggu, 28 - 30 Mei 2021, kegiatan ini laksanakan di Desa Sendang, Tapan, Sepanjang, Matesih, Karanganyar.

    Dikjut Gunung Hutan kali ini menerapkan semua materi yang sudah di ajarkan dilatih dan diasah dari periode awal lalu. Dikjut gunung hutan bukan pendidikan lanjutan yang hanya main main saja , tetapi bentuk implementasi dari materi yang telah diajarkan ke medan yang sebenarnya. Di sini kita di uji, untuk menerapkan atau mempraktekkan materi yang kita dapat dari latihan di alam yang sesungguhnya . Tidak lah gampang, contoh navigasi darat, di mana kita dituntut harus mencari puncakan tertinggi untuk menentukan koordinat yang benar, dan lain sebagainya.

Man To Man

    Dalam pendidikan ini, anggota muda diharapkan mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi, mengerti bagaimana menentukan arah dan posisi di gunung, mampu bertahan hidup dengan kondisi apapun, mampu mencari dan mengevakuasi korban dalam medan yang curam, dan lain sebagainya. Selain itu kita ada juga pelatihan survival yang artinya adalah suatu kondisi dimana seseorang/kelompok orang dari kehidupan normal (masih sebagaimana direncanakan) baik tiba-tiba atau disadari masuk ke dalam situasi tidak normal (di luar garis rencananya).



Pendidikan Lanutan Selanjutnya yaitu Panjat Tebing dan Susur Gua Mapala SPECTA pada tahun 2021 ini sukses dilaksanakan pada hari Senin-Jumat, 21 - 25 Juni 2021, kegiatan ini laksanakan di Daerah Gunung Kidul.Pada dikjut Panjat Tebing kali ini dilaksanakan di tebing siung, karena memang tebing siung mempunyai kriteria yang cocok untuk pendidikan, sekaligus memiliki banyak jalur dan kriteria, mulai dari sport climbing hingga artificial cimbing.Setelah materi ruang dan latihan rutin beberapa bulan di kampus. Disini, para anggota muda dituntut untuk bisa mengaplikasikan materi ke medan yang sebenarnya. Pada dikjut ini anggota muda menerapkan materi pemanjatan : top rope, top runner, top cleaning, upper belay, himalayan tactic dan artificial climbing.





Dikjut Panjat Tebing ini berlangsung selama 2 hari. Setelah dikjut Panjat Tebing pada hari ke 3 dan ke 4, dilanjutkan dengan dikjut susur gua. Di gua mbelik dan gua plelen. Di gua mbelik, gua vertical. para anggota muda menerapkan materi rigging, srt, deviasi, dan intermediet. Untuk praktiknya yaitu menggunakan Set SRT (Single Rope Tecnique), Tali Karmantel, dan beberapa peralatan pendukung lainnya.Untuk gua plelen, gua horizontal, para anggota muda melakukan mapping atau pemetaan gua. Menghitung jarak, kemiringan/gradien untuk menghasilkan sebuah data, yang mana nantinya data itu diolah untuk divisualkan dalam bentuk gambar / video.

Hari terakhir, para anggota muda mempraktikkan materi vertical rescue, yaitu pengevakuasian korban, dengan menggunakan teknik hauling dan lowering, dan system Z.  Pada materi ini anggota muda dituntut untuk sigap dalam pengevakuasian korban, sigap dalam pencarian, terutama dalam medan-medan yang sulit dijangkau. Dengan terlaksananya dikjut ini, diharapkan anggota muda bisa lebih mikitan dan munpuni terjun ke medan² di bidang rock climbing dan caving. Mampu mengimplentasikan materi-materi dengan baik, dalam panjat tebing, susur gua, maupun dalam vertical rescue.Dalam pendidikan ini, anggota muda diharapkan mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi, mengerti cara menuruni sebuah gua yang dalam, mengerti cara memanjat tebing yang sulit dijangkau, tidak lupa harus dengan peralatan yang memadai sesuai dengan SOP yang telah ditentukan.




Untuk DIKJUT yang terakhir yaiti dikjut rafting yang dilaksanakan di Sungai Elo, karena memang sungai elo ini memiliki grade 2-3, cocok untuk pendidikan, di sungai elo banyak titik² untuk penerapan materi rafting. Pada dikjut kali ini melakukan pengarungan sungai pagi hingga sore sejauh sekitar 11 KM. Dan yang lebih berkesan, dikjut rafting ini merupakan dikjut pertama kali Mapala SPECTA. Tidak heran jika anggota muda mengukir sejarah di Specta. Dan alhamdulillah kegiatan ini berjalan dengan lancar dan sukses. Ditengah perjalanan arung jeram, para anggota muda melakukan praktik materi skipper, yang mana seorang skipper dalam sebuah arung jeram itu seorang sopir, seseorang yang mengarahkan perahu, seseorang yang mengendarai perahu, dan yang bertanggung jawab penuh atas kendali perahu.



Kami juga melakukan teknik flipflop di Kedung Celeng, disana praktik membalikkan perahu dan naik ke atas perahu. Flipflop merupakan salah satu teknik water rescue. Jika suatu ketika perahu mengalami flip atau terbalik, disitulah teknik flipflop diterapkan.



Salah satu hal penting dalam rafting sendiri, kita tidak boleh panik, apapun yang terjadi, entah itu jatuh dari perahu ataupun perahu terbalik, usahakan jangan panik, tetap tenang dan berpikir kritis. Usahakan melakukan penyelamatan diri, jangan menunggu untuk direscue.Pada dikjut ini anggota muda juga menerapakan self rescue, disitu dituntut untuk bisa menyelamatkan diri sendiri sebelum menyelamatkan orang lain. Renang jeram termasuk bagian dari water rescue atau self rescue.

Apabila kita terjatuh dari perahu kemudian kita jatuh dan menjumpai jeram, disitulah kita mempraktikkan renang jeram, sambil melihat lihat medan, jika kita menemukan arus yang tenang, di arus yang tenang itu kita bisa menepi atau bisa naik ke perahu.Selain water rescue para anggota muda menerapkan materi scouting, pada materi scouting ini diharapkan para anggota bisa melakukan pengintaian jeram, pembacaraan  jeram, bisa mempelajari jeram. Sehingga jeram ketika kita akan melewati jeram, kita sudah menentukan jalur yang akan dilewati, bisa mempelajari morfologi sungai, bisa menganalisis resiko2 yang terjadi, bisa merencanakan jalur rescue yang akan digunakan, dan lain sebagainya.

Pada dasarnya, teknik scouting ini sangat penting untuk kita yang baru pertama kali mengarungi sungai tersebut, dan khawatir akan jeram yang akan kita lewati.Pada dikjut rafting Mapala SPECTA, berlangsung dari pagi hingga sore. Dan alhamdulillah materi terlaksana semua



"Harapan pada dikjut Rafting ini anggota muda sudah mumpuni dalam implementasi materi yang sudah diajarkan, sudah mampu mempraktikkan materi sendiri, dan sigap akan hal-hal yang terjadi." Ujar Bilal Syaifullah selaku Ketua Umum Mapala SPECTA 2021. (HumPub/Linafebi)



BAIAT ANGGOTA MADYA 2026

​ BAIAT MADYA MAPALA SPECTA 2026 Setelah melalui rangkaian pendidikan dan pembinaan yang panjang, anggota muda MAPALA SPECTA akhirnya mencap...