Acara demi acara dilalui hingga tibanya diacara pucak yaitu Milad Mapala Specta yang ke 27, acara milad dilakukan dengan pemotongan kue ulang tahun oleh ketua umum Mapala Specta. Setelah dilakukan potong kue lalu acara diakhiri dengan Makan bersama seluruh anggota Mapala Specta dan juga sesi foto bersama.
Mahasiswa Pecinta Alam Specta Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta Gd. SC Lt. 1 UIN Raden Mas Said Surakarta "To Think The Earth, To Land Down The Thought"
Senin, 11 Januari 2021
Milad Specta ke 27 dan Tasyakuran Angkatan Gama Baharu
DIKDAPA XXVI
Pendidikan
dasar mahasiswa pecinta alam merupakan sebuah syarat dimana seorang mahasiswa untuk
masuk dan menjadi anggota Mapala diberbagai kampus yang ada. Dimana untuk
setiap waktu dan tempat dilaksanakannya Pendidikan Dasar ini berbagai macam
variasinya dan untuk konsep yang bermacam macam. Di Lereng Gunung Lawu Selatan merupakan sebuah
tempat lahirnya para Mahasiswa IAIN lahir dan menjadi anggota Mapala Specta,
mulai dari angkatan terdahulu hingga sekarang, selalu menggunakan tempat di
Lereng Gunung Lawu Selatan. Tepat tanggal 23 Desember kemarin telah lahir
anggota muda Mapala Specta yang ke 27, angota muda yang baru ini berjumlah 23
orang yang diantaranya 11 Laki Laki dan 12 Perempuan. Mereka semua telah
mengikuti berbagai rangkaian proses seleksi sekitar 2 bulan sebelum masuk ke
lapangan, proses seleksi mulai dari screning, materi ruang, materi praktek, dan
terakhir test fisik. Dikdapa tidak hanya untuk menjadi syarat masuknya menjadi
anggota Mapala Specta, tetapi didalamnya terdapat pembentukan jati diri untuk
pribadi menjadi yang lebih baik, tangguh, tanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungan.
Di Mapala Specta sendiri Dikdapa dilaksanakan kisaran 5-7 hari di Lereng Gunung
Lawu Selatan. Selama melaksakan Pendidikan Dasar, Calon anggota ditempa mulai
dari fisik, metal, hati serta pikiran untuk dijadikan yang lebih baik. Dikdapa
juga merupakan ajang reuni para anggota senior Mapala Specta, para senior
Mapala Specta sangat antusias mengikuti acara Dikdapa karena acara tersebut
merupakan acara tahunan, terlebih dari itu hanya Dikdapa lah untuk tempat reuni
para anggota Mapala Specta dan juga tentunya ingin mengetahui calon anggota
Mapala Specta yang tentunya akan menjadi anggota Mapala Specta setelah selesai
acara Dikdapa.
Pelatihan Design dan Editing
Editing adalah suatu proses memilih atau menyunting gambar dari hasil shooting dengan cara memotong gambar ke gambar (cut to cut) atau dengan menggabungkan gambar-gambar dengan menyisipkan sebuah, sedangkan untuk design uatu proses kreatif untuk menghasilkan suatu karya dalam bentuk tampilan visual. Bisa berupa gambar, tipografi, ilustrasi, layout, animasi, ataupun elemen visual lainnya. Jadi pengertian antara design dan editing tidaklah berbeda jauh.
Tanggal 5 Januari
2021 Mapala Specta mengadakan program kerja dari divisi humas dan publikasi.
Pelatihan design foto dan editing video ini yang nantinya akan menjadi
pengenalan serta bekal untuk para anggota aktif khususnya anggota muda pada
kepanitiaan yang tentunya membutuhkan design seperti membuat MMT, Stiker serta
Pamflet. Tidak hanya menjadi sebuah pengenalan ataupun bekal tetapi juga
sebagai sebuah peminatan bakat dalam bidang Multimedia.
Kamis, 10 Desember 2020
Ekspedisi Bumi Pasundan
Ekspedisi XVI MAPALA SPECTA EKSPEDISI BUMI PASUNDAN sukses dilakukan oleh 8 orang anggota Mapala Specta angkatan ke 25, ekspedisi ini dilakukan pada tanggal 6 November – 17 November. Ekspedisi Bumi Pasundan ini merupakan sebuah ekspedisi yang dilakukan kota Bandung dan Sukabumi, Jawa Barat. Ekspedisi ini dilakukan pada 3 medan sekaligus yakni Gunung Hutan, Panjat Tebing, dan Susur Goa. Adapun untuk Panjat Tebing dilakukan di Tebing Hawu, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, untuk Gunung Hutan dilakukan di Pegunungan Malabar, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat, dan untuk Susur Goa dilakukan di Goa Cisapi, Goa Monyet, Goa Landak, Goa Gombong, Goa Kerek, dikawasan Buniayu, Sukabumi, Jawa Barat.
Ekspedisi
dimulai sejak tanggal 6 November dilakukan upacara pemberangkatan di
lapangan IAIN Surakarta yang diikuti
sejumlah peserta ekspedisi serta pengurus dan anggota Mapala Specta,
selanjutnya pada malam hari pukul 22.00 tim Ekspedisi Bumi Pasundan menuju stasiun
Purwosari untuk menuju ke Bandung dan Sukabumi. Keesokan paginya setelah sampai
distasiun Kiaracondong Bandung, tim Ekspedisi Bumi Pasundan langsung berpisah
sesuai tujuannya. Tim panjat tebing yang beranggotakan 3 orang, langsung menuju
Padalarang dengan menaiki kereta lokal di Bandung, adapun tim susur goa yang
beranggotakan 3 orang, juga menuju ke kawasan Buniayu di Sukabumi dengan
menaiki Bis dan tim gunung hutan yang beranggotakan 2 orang, menuju ke kampus
UIN Sunan Gunung Djati dengan menaiki angkot dan lalu diantar dengan motor oleh
anggota Mapala Mahapeka Bandung menuju ke Pangalengan. Disetiap medannya
ekspedisi ini mempunyai tujuan yang berbeda beda, adapun untuk panjat tebing
dengan melakukan pendataan di semua jalur sport di tebing Hawu dan melakukan
top tebing Hawu serta menerapkan beberapa ilmu yang telah dipelajari, untuk
gunung hutan melakukan dengan tujuan membuat peta jalur pendakian Gunung
Malabar via kampung Cinyiruin dan mencapai puncak besar Malabar 2341 Mdpl, dan
untuk susur goa melakukan dengan tujuan pendataan dan pemetaan.
Pada setiap tim Ekspedisi Bumi Pasundan berbeda beda dalam selesai melakukan ekspedisi. Untuk tim panjat tebing menghabiskan waktu selama 3 hari 2 malam di Tebing Hawu, untuk tim gunung hutan menghabiskan waktu 2 hari 1 malam di Pengunungan Malabar dan untuk tim susur goa menghabiskan waktu 4 hari 3 malam di kawasan Buniayu. Setelah semua tim selesai melakukan ekspedisi, lalu semua tim berkumpul di kampus UIN Sunan Gunung Djati disana beristirahat sehari sebelum berangkat ke Garut Selatan untuk menyalurkan hasil donasi bencana banjir dan tanah longsor di Garut Selatan. Selama istirahat kami diajak bermain dan mengelilingi kota Bandung bersama anggota Mahapeka Bandung, mulai dari kuliner di Bandung hingga ke tempat populer di Bandung. Hingga sesampainya di UIN Sunan Gunung Djati pada malam hari setelah itu dilanjutkan breafing untuk kegiatan penyaluran hasil donasi besok pagi.
Selasa, 20 Oktober 2020
Ekspedisi Muda II
Ekspedisi Muda II Mapala Specta tahun ini sukses dilakukan oleh angkatan 26 Kartala Parahita di gunung Lawu via Cemoro Kandang. Ekspedisi ini dilakukan pada tanggal 5-7 Oktober 2020 dengan misi membawa sampah dari puncak Hargo Dumillah hinga ke pos Cemoro Kandang dan pemasangan plakat arah kiblat di setiap pos atau shelter hingga puncak. Hal yang mendasari dilakukan nya ekspedisi ini adalah karena belum adanya plakat arah kiblat di jalur cemoro kandang dan banyaknya sampah yang terdapat di jalur itu sendiri. Dan juga kami melihat bahwa Lawu dijadikan sebagai sasaran para pendaki dikala pandemi ini karena banyaknya gunung yang tutup sehingga memungkinkan banyak nya sampah yang terdapat disana.
Malam hari di tanggal 5 Oktober kami tiba di basecamp cemoro kandang. Setibanya disana kami langsung melakukan sosiologi pedesaan yang dibagi menjadi beberapa tim. Sosiologi Pedesaan adalah cabang dari disiplin ilmu sosiologi yang mempelajari tentang kehidupan masyarakat pedesaan beserta segala hal yang terkait, termasuk struktur sosial, kondisi, proses dan sistem sosial. Masyarakat disana mayoritas bermata pencaharian sebagai petani sayur dan pedagang. Masyarakat disana hidup dengan kondisi sosial dimana tidak ada struktur organisasi didalamnya seperti ketua RT dan RW. Kami mewawancarai 4 warga setempat sebagai narasumber. Kami juga diberi informasi tentang mitos-mitos di gunung Lawu seperti jangan menggunakan baju hijau pupus ketika mendaki, jangan menggunakan ikat kepala lorek ketika mendaki, jangan mengganggu burung Jalak Lawu, dan lain sebagainya.
Perjalanan kami dimulai pada tanggal 6 Oktober pagi. Cuaca pada saat itu gerimis dan berkabut, tapi kami tidak patah semangat. Total jumlah anggota kami yang melakukan perjalanan ini adalah 13 orang dengan pendamping 4 orang. Kami mengisi perjalanan dengan canda tawa sehingga kami sangat menikmati perjalanan ini walau hujan dan kabut terus mengiringi hingga pos 3. Keadaan jalur cemoro kandang pada saat itu sepi, bahkan ketika berangkat hanya terdapat dua rombongan termasuk kami.
Total plakat arah kiblat yang kami pasang adalah 7 buah yang berada di pos 1, pos 2, pos 3, pos bayangan, pos 4, pos 5, dan puncak Hargodumillah. Kami memasang plakat kiblat di tiang-tiang yang terdapat di masing-masing shelter dengan menggunakan media kawat dan paku. Dan total sampah yang berhasil kami bawa turun adalah 10 kantung trashbag penuh. Sampah yang kami dapatkan kebanyakan adalah sampah tisu dan plastik yang tidak bisa didaur ulang karena sudah banyak yang rusak termakan waktu. Selain itu, kami masih menemukan banyak sampah air urin di dalam botol, ini menandakan bahwa masih banyak pendaki yang kurang kesadaran akan sampah di gunung. Dengan hal itu, kami membawa pesan tersirat untuk para pendaki agar senantiasa membawa pulang sampah yang dibawa ke gunung.
Selasa, 28 April 2020
Lestarikan Bumi
Sabtu, 01 Februari 2020
RANGKAIAN MILAD KE 26 MAPALA SPECTA GELAR BERBAGAI ACARA
![]() |
| milad Mapala Specta 26 |
![]() |
| (juara 1 dengan video berjudul “sampah”) |
Uswatun Hasanah (ucil)
MPA. 23. 174. SR
BAIAT ANGGOTA MADYA 2026
BAIAT MADYA MAPALA SPECTA 2026 Setelah melalui rangkaian pendidikan dan pembinaan yang panjang, anggota muda MAPALA SPECTA akhirnya mencap...
-
Salam Lestari. Dalam rangka meningkatkan kinerja dan kemampuan organisasi, perlunya peningkatan kualitas pengurus. Melalui Upgrading penguru...
-
Press Release Pendidikan Lanjut Mapala SPECTA 2023 Pendidikan Lanjut Rafting Pendid...
-
Magelang, 7 Maret 2026 - Suasana di Basecamp Getek Balong Magelang pada tanggal 8 Maret itu terasa begitu hidup d...














