Sabtu, 18 Januari 2020

"SPECTA MENGABDI" untuk SD N 02 Ngombakan


Assalamu’alaikum wr.wb
Salam Lestari !!!

Melihat bencana yang tidak ada habisnya, terutama yang akhir-akhir ini ditimpa oleh saudara-saudara kita adik-adik kita. Kami menangis dalam hati prihatin dengan yang mereka alami. Terketuk hati kami untuk melakukan pengabdian kepada mereka yang membutuhkan. Dalam kesempatan ini kami melakukan kegiatan “Specta Mengabdi”  dengan tema Upaya Membangun Rasa Cinta Terhadap Lingkungan Sekitar dan Kesiapsiagaan Bencana Sejak Dini
  
   
Kegiatan ini kami lakukan di SDN Ngombakan 2, Kec. Polokarto, Kab. Sukoharjo. Pada hari Rabu dan Kamis pada tanggal 15 sampai 16 Januari 2020. Yang diikuti oleh seluruh siswa berjumlah 45 anak dari kelas 1 sampai kelas 6. Alasan mengapa kami melakukan pengabdian di tempat ini karena sekolahan ini apabila musih hujan dengan curah hujan yang tinggi terjadi banjir maka dari itu kami Mapala Specta mengajak adik-adik untuk belajar mengenai pendidikan kesiapsiagaan bencana, membangun perilaku sadar sampah, menanam pohon dan membuat lubang biopori.

Kesiapsiagaan bencana banjir, hal-hal yang perlu dilakukan ketika terjadinya banjir. Membangun perilaku sadar sampah karena Indonesia merupakan urutan Kedua Dunia Penghasil Sampah Plastik tak dapat dipungkiri hal tersebut karena kurang sadarnya sadar sampah. Kami membantu memanamkan sadar sampah sejak dini. Menanam Pohon, kurangnya pohon-pohon juga menyebabkan terjadinya bencana, misalnya longsor dan banjir karena kurangnya pohon maka banyak air yang menggenang padahal dengan adanya pohon akar-akarnya dapat menyerap air dan tanah sehingga dapat meminimalisir terjadinya bencana. Dan membuat lubang biopori, apa sih lubang biopori itu ? lubang biopori adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang dapat menampung ari sehingga mengurangi resiko terjadinya penggenangan air.
            Dihari kedua mengabdi kami juga mengajak siswa-siswi untuk senam agar badan sehat dan bugar. Serta membagikan susu gratis untuk masing-masing siswa. Besar harapan kami bahwa siswa-siswi di SDN Ngombakan 2 menjadi siswa yang sehat dan berprestasi. begitulah sepercik kegiatan dari kami.
Wasalamu’alaikum wr.wb
Sesam (Humas Mapala Specta)

Ekspedisi XV MAPALA SPECTA Ke Pulau Seram, Explore dan Pengabdian Suku Pedalaman


Assalamu'alaikum Wr Wb
Salam Lestari !!!

Mahasiswa Pecinta Alam Institut Agama Islam Negeri Surakarta (SPECTA) Melaksanakan Ekspedisi di pulau Seram Provinsi Maluku Tengah sejak 25 Oktober hingga 20 November 2019 lalu.
Tepatnya dilakukan di Gunung Binaiya 3027 mdpl yang berada di Pulau Seram, Maluku Tengah. Mereka melakukan pengabdian di Negeri Kanikeh dan pendakian Gunung Binaiya.
Koordinator tim Ekspedisi, M.Abdur Rokim, menyebutkan kegiatan pendakian di Gunung Binaiya ini mengangkat tema “Memberi cerita untuk maluku”. Pendakian berlangsung selama kurang lebih 9 hari dan diikuti sebanyak 8 orang anggota Mapala Specta IAIN Surakarta.

M. Abdur Rokim menjelaskan dalam Pendakian Gunung Binaiya anggota Mapala Specta mengumpulkan berbagai data dan informasi terkait data sejarah, mata pencaharian, teknologi, mitos, pemerintahan, pendidikan, sarana dan prasarana, serta berbagai sistem yang ada di masyarakat tersebut. Data diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap masyarakat di Negeri Huaulu, Negeri Roho dan Negeri Kanikeh. Terutama di Negeri Kanikeh untuk mencapai Negeri Kanikeh tersebut Tim Ekspedisi harus melewati segala medan baik kering maupun basah selama 3 hari.
Tidak hanya itu, tim Ekspedisi Mapala specta juga melakukan kegiatan pendidikan di SD YPPK Negeri Kanikeh yaitu desa terakhir pendakian Gunung Binaiya. Berbasiskan experiental learning, kegiatan ini mencoba mengajarkan kepada siswa-siswi bagaimana cara untuk menjaga dan menjalin kebersamaan dengan cara berdiskusi, bermain dan bernyanyi serta memotivasi dengan hadiah.
 
 
Dari ekspedisi di Gunung Binaiya, tim Mapala Specta memperoleh berbagai informasi tentang segala hal di wilayah tersebut. Mulai dari keindahan alam terutama pantainya, sejarah asal mula nama pulau Seram, cerita mitos di Negeri pedalaman Negeri Huaulu, Negeri Roho, Negeri Kanikeh, dan berbagai hal menarik lainnya.
Hal menarik lain yang berhasil dikumpulkan adalah keberhasilan Mapala Specta memecahkan permasalahan kesenjangan sosial di negeri tersebut.
Nantinya, data yang kami peroleh tersebut akan kami seminarkan di acara serangkaian milad Mapala Specta ke 26 Tahun. menjadi satu bahan buku “Ekspedisi XV. Tanah Maluku” dan Film Dokumenter. terangnya.

SPECTA
SELURUH BAKTIKU UNTUKMU
Walaikumsalam Wr Wb 

Pendidikan Dasar Pecinta Alam Mapala Specta (DIKDAPA) XXV Tahun 2019


Assalamu'alaikum Wr Wb
Salam Lestari !!!

Pendidikan sering dikatakan sebagai proses belajar serta memperoleh berbagai pengetahuan. Dalam KBBI kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’ dan mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Motivations group
Praktek Navigasi Darat
Praktek SAR
DIKDAPA proses pembentukan mental dan berbagai ilmu yang telah diberikan, pendidikan yang tidak didapat dibangku perkuliahan yang di dalamnya mempersiapkan pikiran dan mental dikehidupan bermasyarakat yang keras. DIKDAPA XXV dilaksanakan di Lereng Lawu Selatan pada tanggal 20 sampai 25 bulan Desember tahun 2019 yang menghasilkan 22 orang anggota baru. Berikut daftar peserta DIKDAPA XXV :

NO NAMA JURUSAN NIM
1 Abdul Hayyi Al Ghifari KPI 191211065
2 Annisa Berlian S MBS 195211172
3 Athiyyah Salsabila PIAUD 193131074
4 Bagus Yanuar Riyadi MAZAWA 182141063
5 Dyon Hadi Widodo PBS 195231040
6 Evitania Tulus O PI 191141059
7 Fauzan Syifaul Suduur SI 196111095
8 Isnaini Nur Khotijah KPI 191211012
9 Ita Indriyani MBS 185211093
10 Lina Febi Anti HPI 182131114
11 M. Misbakhul Imam M PBS 195231022
12 Muhammad Azkanuddin KPI 191211029
13 Nabila Salma KPI 191211013
14 Nailil Muna HKI 192121191
15 Nasib Sri Pamujo HPI 182131035
16 Nuraini Auliya Rochmah KPI 191211152
17 Nurul Khasanah MBS 185211020
18 Retno Purnamasari HKI 192121184
19 Rizka Wahyu Noviyana HES 192111133
20 Silkhana Angga W KPI 191211024
21 Tiana Setyo Pratiwi PBS 195231311
22 Yose Vira Oktaviana SI 196111022   

Selamat kepada 22 orang yang telah sukses mengikuti DIKSAR XXV. Seringnya setengah perjalanan ditempuh dengan tenaga, namun setengahnya lagi harus ditempuh dengan tekad dan kemauan. Sebelum kita dapat mendulang KESUKSESAN, ada banyak hal yang mesti kita pelajari, ada banyak proses yang harus kita jalani, mungkin jalannya berliku, perlu ketekunan, kesabaran, tapi disitulah kita bisa mengasah diri, meningkatkan kemampuan, bertumbuh secara Kepribadian dan pada akhirnya akan berbuah pada Kesuksesan.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama mengiringi keberangkatan Dikdapa Specta 2019

Hukum alam membuktikan  di dunia ini tidak ada keberhasilan yang instan. Kita harus mau berusaha dulu sebelum mencapai Apapun. Namun kapanpun kamu Berhasil meraih SUKSES. Kamu akan sangat berterima kasih pada PROSES yang telah dilalui. Karena Keberhasilan sekarang adalah akumulasi pelajaran yang didapat dari kejatuhan,  dari kesedihan, dari kemarahan, dan dari kegagalan selama Proses perjalanan itu.Layaknya sebuah Permata, dirimu adalah permata yang menanti untuk ditemukan. Asahlah dirimu dan biarkan dunia menemukanmu.

SPECTA !!!
SELURUH BAKTIKU UNTUKMU
Walaikumsalam Wr Wb

Humas Mapala Specta (sesam)

Milad Intern Ke 26 Mapala Specta dan Tasyakuran Angkatan “Kartala Parahita”

 Assalamu'alaikum Wr Wb
Salam Lestari !!!

Milad merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab yaitu maulid yang artinya Lahir atau yang lebih sering diartikan hari kelahiran. Milad dalam sebuah organisasi merupakan tanda sejauh mana sebuah organisasi tubuh dan berkembang. Untuk milad Mapala Specta sendiri merupakan ajang perayaan mengingat hari lahirnya Mapala Specta dari 07 Januari 1994 sampai dengan 07 Januari 2020. Dan ini merupakan milad Mapala Specta yang Ke 26. Milad diselengarakan di Gedung Graha IAIN Surakarta pada 06-07 Januari 2019 yang dihadiri seluruh anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mapala Specta dan para alumni.
Suasana kekeluargaan nampak sangat erat terlihat dari banyaknya alumni yang hadir. Karena rasa memiliki specta yang sudah tertanam sejak dulu.
Adapun acaranya yaitu tiup lilin dan potong kue dengan diiringi nyanyi selamat ualng tahun pada pukul 00:00 wib yang dilakukan oleh ketua umum Mapala Specta bersama dengan perwakilan Keluarga Besar Specta. 

Dimalam tersebut tak sekedar acara milad melainkan juga acara Tasyakuran dan penetapan nama angkatan peserta DIKSAR XXV kemarin. Mereka anggkatan ke 26 Mapala specta dengan nama angkatan “KARTALA PARAHITA” dengan makna “seberkas cahaya penerang yang mensejahterakan”. Nama tersebut berisikan harapan angkatan 26 semoga kedepannya mendapatkan cahaya yang menuntun ke arah yang benar sehingga dapat mensejahterakan semuanya.
Selain itu dan tak lupa ada acara sarasehan bersama. Dalam bagian ini merupakan bagian yang mengasyikan dimana kami berbagi pengalaman, pengetahuan dan nasihat tentang mapala specta dan bagaimana menjadi insan yang lebih baik lagi dan yang tak pasti terlupa kbs memberikan semangat kepada anggota aktif dalam berproses dan mengembangkan mapala specta lebih baik lagi.
Semoga di milad mapala specta yang ke 26 menjadikan mapala specta sebagai organisasi pecinta alam yang lebih baik kedepanya seperti sembohyan mapala specta “memikirkan bumi, membumikan pikiran”. 

SPECTA !!!
SELURUH BAKTIKU UNTUKMU

Humas Mapala Specta -(Ucil)-

Selasa, 05 November 2019

Dari Mapala SPECTA menuju Temu Wicara Kenal Medan, Ada Apa di Temu Wicara Kenal Medan XXXI?


Assalamu'alaikum wr wb
Salam Lestari !!!


Dari kiri: Ni’matul (Sejawat Gaplek) dan Fajar R Saputro (Sejawat Langes), mewakili UKM Specta IAIN Surakarta dalam TWKM XXXI

Sebagian orang mungkin tidak mengenal TWKM, sebagian lagi bahkan tidak menyadari jika ada sebuah kegiatan bernama TWKM. Jika ditilik lebih jauh, kegiatan TWKM adalah kegiatan eksklusif milik Mahasiswa Pencinta Alam tingkat Perguruan Tinggi se-Indonesia. Bagi anggota Mapala, mendengar kata TWKM atau Temu Wicara dan Kenal Medan pasti sudah tak asing lagi. Bukan apa-apa, TWKM bisa dikatakan forum berkumpulnya seluruh Anggota Mapala Tingkat Perguruan Tinggi se-Indonesia yang digelar tiap tahun.
Sejarah TWKM bermula pada sebuah kegiatan kemah bhakti atau camping ceria mapala se-Jawa – Bali pada tahun 1987yang dilaksanakan oleh MPL Unsoed. Pada kegiatan tersebut juga dihadiri oleh perwakilan Bidang Kemahasiswaan Dikti. Disana, beliau menyampaikan adanya anggaran yang disediakan untuk kegiatan kemahasiswaan yang berskala nasional. Mulai dari situ beliau memberi tantangan kepada mapala pada zaman itu untuk mengadakan suatu kegiatan berskala nasional.
Tantangan itu akhirnya dijawab dengan pelaksanaan TWKM untuk pertama kalinya. Konsep pertama TWKM dicetuskan oleh Zamri Khusaini dan Budi Tri Siwanto dengan ketua pelaksana Lik Memed. Kesemua orang tersebut adalah anggota mapala Madawirna IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta). Akhirnya TWKM dilaksanakan pertama kali di Madawirna IKIP Yogyakarta pada tahun 1988.
Kegiatan TWKM pertama hingga keempat dilaksanakan dengan konsep Temu Wicara yang merupakan agenda utama TWKM dan dihadiri oleh petinggi organisasi dalam satu forum sidang yang membahas dan mencari solusi dari permasalahan lingkungan di Indonesia serta persoalan internal dan eksternal organisasi Mahasiswa Pencinta Alam. Kemudian dilanjutkan agenda Kenal Medan, yakni sebuah bentuk kegiatan kepetualangan yang mencakup beberapa divisi diantara lain Gunung Hutan, Susur Gua, Panjat Tebing, Arung Jeram, Diving, hingga Lingkungan Hidup yang keseluruhan dimuatkan materi dasar hingga materi lanjutan oleh pemateri yang bersertifikasi di bidangnya.
Selanjutnya pada kegiatan tahun kelima hingga tahun ke 31 ini agenda Temu Wicara dan Kenal Medan dilaksanakan secara bersamaan.
31 tahun TWKM berjalan dengan penyelenggara dan tim perangkat yang berbeda pada setiap tahunnya. Namun selama kurun waktu 31 tahun TWKM dihelat, tujuan itu terasa semakin jauh dari pelupuk mata. Alih-alih menghasilkan tindakan yang bisa membawa pada kelestarian alam, justru gaung Mapala tak terdengar lagi dari hiruk pikuk perjuangan lingkungan yang semakin mengalami degradasi luar biasa dari tahun ke tahun.
Beberapa Mapala justru lebih rajin ke gunung, sungai atau tebing ketimbang menentang Undang-undang yang berimplikasi merusak alam, atau berdiri digarda paling depan melawan korporasi yang merusak lingkungan, atau mungkin dari hal kecil yakni diskusi mengenai politik lingkungan.Wajar saja jika khalayak ramai mendiskreditkan Mapala sebagai organisasi yang anggotanya hanya berisikan kegiatan petualangan.
Seharusnya problematika semacam inilah yang harus disuarakan di TWKM yang kemudian melahirkan rekomendasi-rekomendasi seperti Aksi Serentak, testimoni, atau bahkan mengambil langkah-langkah pendampingan terhadap berlangsungnya persoalan lingkungan.
Tahun ini, TWKM XXXI dihelat pada 21-27 Oktober 2019 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan MAPALA Meratus UIN Antasari Banjarmasin bertindak selaku tuan rumah. Kegiatan nasional TWKM XXXI ini sedikitnya 380 mahasiswa pecinta alam se-Indonesia dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta ikut dalam kegaiatan tahunan ini. Termasuk delegasi dari Mapala SPECTA IAIN Surakarta yang wakili oleh Fajar R. Saputro (Sejawat Langes) sebagai peserta Temu Wicara dan Ni’matul Mufidah (Sejawat Gaplek) sebagai peserta Kenal Medan Caving atau Susur Gua.
TWKM XXXI kali ini mengangkat #SaveMeratus sebagai isu nasional. Sebuah langkah maju dan progresif ditengah-tengah degradasi nilai di Mapala Indonesia. Alhasil, ratusan anggota MAPALA Se-Indonesia menyatakan dukungan yang diaktualisasikan dalam deklarasi dan penandatanganan petisi terhadap gerakan #SaveMeratus sebagai upaya penyelamatan Pegunungan Meratus dari ancaman pertambangan batu bara. 


Jika seluruh peserta TWKM bersatu dan melawan aktor perusak lingkungan. Bukan tidak mungkin, stigma negatif terhadap Mapala lambat laun terkikis dan akan tergantikan dengan Mapala yang menjadi organisasi pelopor dalam perjuangan-perjuangan lingkungan di Indonesia. Mapala yang terlibat aktif dalam berbagai kasus-kasus lingkungan di Indonesia. Mapala yang mengecam keras tindakan penegak hukum yang mengkriminalisasi aktivis lingkungan. Semoga, hasil dari TWKM XXXI ini bisa lebih nyata dan membawa pada kelestarian alam untuk generasi mendatang. Kembali membawa kepada rel tujuan yang selama ini telah diimpikan yaitu Menumbuhkan kesadaran dan sikap kritis mahasiswa pencinta alam Indonesia terhadap permasalahan lingkungan. 

Specta !!!
Seluruh Baktiku Untukmu....!!!
Wassalamu’alaikum wr.wb

BAIAT ANGGOTA MADYA 2026

​ BAIAT MADYA MAPALA SPECTA 2026 Setelah melalui rangkaian pendidikan dan pembinaan yang panjang, anggota muda MAPALA SPECTA akhirnya mencap...